Sabtu, 05 Mei 2012
hopefulness
A wind fall to me.
Lie to my head and straight to my hear.
Night with a dark.
Wind with a deep a cool
I don’t know how long this feel
A star stole my hope
I will took it back and find my land
Again…
Always night come to me at that time
Alone to trip my way
How can she will come?
penulis: A. Ahmad Iswar Ibrahim
Kamis, 03 Mei 2012
arti tak berarti bermakna
mengartikan satu kisah saja sudah sangat sulit,
bagaimana dengan beribu kisah yang tak mampu untuk aku sisipkan pada replika yang telah retak ini?
perjalanan singkat, namun begitu bermakna buatku.
tak dapat menemukan benang merah dalam catatan denganmu.
namun, masih tetap saja saya simpan.
bila kau telah pergi,
senyum itu takkan pernah hilang dalam bayangan yang menghampiri.
dirimu di sana,
tersenyum dalam indahnya hidup yang terasa hambar di masa itu.
kau kembali pada dirinya, itu yang terbaik.
meragukan yang telah ada,
walau tak mampu menerima.
menduakan hati yang tak tau apa.
memberikan beribu senyum untuk maaf.
menikmati malam yang begiu sunyi,
tanpa sambutan dari sang bulan.
walau ku tau di atas sana tersenyum indah.
meski tak bisa, berikan waktu pada keadaan untuk bercerita.
jangan kau menyimpan mawar dalam kotak,
bagaimana bisa saya merasakan betapa "harum" mawar itu?
Senin, 30 April 2012
setelah fondasi, selanjutnya...
Layaknya
orang hendak membangun rumah, seseorang juga berpikir kira-kira seperti apa
konstruksi tulisan yang bakal dihasilkan.
Seperti apa rumah itu? Bagaimanakah
pondasinya, temboknya, ruang-ruang atau kamar-kamarnya, hingga kemungkinan
persepsi orang terhadap rumah tersebut setelah selesai bangun?
Peristiwa
dan fenomena di lingkungan sekitar serta alam luas merupakan sumber tanpa batas
untuk ditulis. Seseorang mungkin ingin menulis tentang hal-hal menarik seputar local interests seperti pengalaman
pribadi di rumah, lingkungan sekitar, tempat belajar, maupun tempat kerja.
Tidak tertutup
pula kemungkinan ia tertarik menulis hal maupun peristiwa yang menarik dan unik
(unusual events) hingga yang
menyentuh naluri serta menggugah rasa kemanusiaan (human interests). Cerita tentang konflik, orang-orang sukses para
pesohor atau selebritas serta dampak peristiwa yang telah diberitakan dan
menjadi topik bahasan hangat masyarakat juga bisa menjadi sumber tulisan.
Saat memilih,
sebagaimana orang akan membangun rumah. Saat itu pula seseorang menentukan
wujud bangunan tulisannya. Tentu ia juga telah memikirkan segala yang
diperlukan dan hendak dikerjakan. Namun, sebelum menuangkannya ke dalam garis
besar panduan rencana kerja (outline) menulis,
sebaiknya ia bertanya kepada diri sendiri:
·
Untuk apa dan siapa saya menulis?
·
Apakah pembaca kira-kira akan tertarik dan memerlukan tulisan saya
karena dinilai bermanfaat untuk mereka?
· Bagaimanakah pembaca bisa memahami secara mudah inti pesan dalam
tulisan saya?
Ketiga
pertanyaan tersebut perlu dimiliki dan selayaknya tidak dijadikan sebagai beban
yang mengerosi kepercayaan diri (confidence)
sebelum menulis. Justru ketiganya berguna untuk menuntun serta
menghindarkan seseorang dari jebakan rasa percaya diri berlebihan (overconvidence) yang bisa berujung pada
frustasi selama menulis dan sesudahnya.
Pertanyaan
pertama dan kedua menggarisbawahi tujuan seseorang menulis. Jika sekedar
sebagai ekspresi diri, just do it!
Apalagi jika hanya untuk konsumsi pribadi. Apabila
cukup percaya diri, ia bisa menuliskannya di blog dan membiarkan orang lain membacanya. Menginginkan hanya
orang-orang dekat dan kawan membaca tulisan tersebut, ia bisa memasangnya di
situs pertemanan sosial.
Namun,
berharap publik luas membacanya dengan tujuan tertentu, apalagi dikirimkan
untuk dimuat di media massa, maka seseorang selayaknya tidak dulu terlalu
percaya diri tulisannya sudah bagus dan sesuai target. Masih ada criteria penting yang perlu
dipenuhi dalam konstruksi tulisannya. Seandainya tulisan tidak dimuat, berarti
ia dinilai belum mampu memenuhi kriteria itu dan harus terus berlatih menulis
serta semakin rajin membaca fenomena.
Jumat, 27 April 2012
logos, cinta, dan bahasa
manusia adalah yang terlahir dalam bahasa. bagaimana penjelasannya? saya akan memaparkan pemikiran menarik dari Jacques Lacan. pada awalnya anak tergantung pada ibunya untuk segala hal dan di saat itu ia belum bisa mengenali dirinya secara utuh. ia hanya mengenali bagian-bagian tubuh, seperti mulut, tangan, dan sebagainya. tetapi rtidak menyadari semua itu sebagai kesatuan utuh tubuh. pengenalan pertama adalah ketika anak berada di muka cermin dan melihat bayangannya. persis di titik inilah terjadi alienasi. anak mengalami yang lain, yaitu bayangan di cermin, sebagai yang sama yaitu anggapan bahwa itu adalah sama dengan dirinya.
fase cermin adalah sebuah fase penting. kendati mengalienasi, namun inilah jalan untuk memahami "diri" secara utuh. pantulan cermin ini adalah "bahasa" awal, bahasa yang sifatnya imajiner simbolis. di kemudian hari, untuk merasakan pantulan lain sebagai yang sama, anak tak harus berada dihadapan cermin, melainkan bisa juga melihat orang lain (liyan). sepanjang hidupnya, manusia sejatinya terus menerus membuat identifikasi dengan yang imajiner, yang lain yang dianggap sama (the same other).
sampai saat ini kita bisa melihat bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan alienasi. pada mulanya, ia adalah satu yang tidak mengalami kekurangan apa-apa, yaitu ketika ia masih berada dalam rahim ibunya. disana tak ada bahasa baik imajiner simbolis maupun tatanan simbolik, tak dibutuhkan komunikasi karena segalanya seketika bisa langsung terpenuhi. seiring ia lahir dan mulai dewasa, ia mulai "terbelah" dan menyadari adanya pantulan bayangan yang lain, yang kemudian dianggap dirinya. keterbelahan ini semakin parah ketika ia masuk dalam tatanan simbolik. manusia bukannya sama sekali tidak menyadari keterbelahan ini, justru sebaliknya, keterbelahan ini membuatnya merasa ada yang kurang. dalam dirinya ada yang "berlubang" dan "menganga"yang ingin ditutupnya.
fase perkembangan di atas untuk memahami logos sebagai bahasa. perhatikan bahwa manusia di satu sisi ia merupakan makhluk yang melepaskan diri dari ibu, sementara di sisi lain ia juga merindukan pulang pada ibu. proses melepas diri dari ibu ini bukan proses biasa, karena di satu sisi ia membutuhkan, namun ia harus lepas dari apa yang dibutuhkan itu agar bisa tetap hidup. ambiguitas ini yang oleh Julia Kristeva disebut "abjek". sejatinya ibu adalah yang mengantar anak untuk mengabjek dirinya, yaitu ketika ibu memoperkenalkan anak pada bahasa fase di fase cermin, bahasa yang imajiner simbolis atau dalam psikoanalisa disebut "bahasa ibu".
inilah pemahaman lebih dalam mengenai logos sebagai bahasa yang dipararelkan dengan Eros (cinta).
cinta kata Kristeva, adalah kombinasi sublimasi dan abject. ini adalah kombinasi antara identifikasi dgn sublimasi ideal serta keputusan untuk memisahkan diri dengan m/other, di sini yang meliputi juga abjeksi. cinta dengan demikian membutuhkan dua hal yaitu : self (diri) dan yang lain (other ). serta memampukan subjek untuk menyebrangi keterikatan antara "diri" dan keharusan menjadi "orang lain". cinta adalah sebuah sapaan terhadap yang lain. jiwa berkemungkinan mentransendesasi adanya yang imanen hanya dalam cinta. pada saat cinta mensublimasi dirinya pada cinta, ia menyatu sekaligus berjarak, menjadi subjek. kehidupan cinta adalah kehidupan sang jiwa yang mentransendensasi dalam cinta. cinta membutuhkan tiga terma : subjek, objek (riil atau imajinasi), dan liyan (mewacanakan suatu makna). cinta setelah memenuhi tiga terma itu, barulah bisa menjadi sesuatu yang terbicarakan. melalui bahasalah kita bisa mencintai satu sama lain. ini bukan dalam pemaknaan kita berbicara dalam bahasa ibu yang sama ketika kita mencintai satu sama lain. apa yang dimaksud di sini adalah "aku". melalui bahsa dan liyan juga melalui bahsa. dan relasi "aku" dengan liyan dikonstitusi hanya melalui bahasa. titik ini juga sebagai pengingat bahwa bahasa selalu heterogen, terbuat dari elemen-elemen simbolik dan semiotik.
cinta adalah hidup dari psyche. tanpa cinta yang disertakan dalam sebuah analisis psyche, kita hidup dalam kematian. pengetahuan dan upaya mengetahui ini adalah logos: yang didalamnya sekaligus terdapat bahasa dan cinta. mempelajari psyche dalam semangat logos adalah mempeljari sesuatu dalam tatanan bahsa yang disadari benar dilakukan dengan cinta. inilah sebuah filosofi penting yang hendaknya disadari oleh siapapun pembelajar psikologi yang masih memiliki keramahan terhadap kehidupan. filosofi inilah yang akan menghindarkan psikologi terjerumus dalam "pekerjaan tukang" yang berparadigma techne.
sumber: audivax.2010.filsafat psikologi.yogyakarta:pustaka book publisher.
fase cermin adalah sebuah fase penting. kendati mengalienasi, namun inilah jalan untuk memahami "diri" secara utuh. pantulan cermin ini adalah "bahasa" awal, bahasa yang sifatnya imajiner simbolis. di kemudian hari, untuk merasakan pantulan lain sebagai yang sama, anak tak harus berada dihadapan cermin, melainkan bisa juga melihat orang lain (liyan). sepanjang hidupnya, manusia sejatinya terus menerus membuat identifikasi dengan yang imajiner, yang lain yang dianggap sama (the same other).
sampai saat ini kita bisa melihat bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan alienasi. pada mulanya, ia adalah satu yang tidak mengalami kekurangan apa-apa, yaitu ketika ia masih berada dalam rahim ibunya. disana tak ada bahasa baik imajiner simbolis maupun tatanan simbolik, tak dibutuhkan komunikasi karena segalanya seketika bisa langsung terpenuhi. seiring ia lahir dan mulai dewasa, ia mulai "terbelah" dan menyadari adanya pantulan bayangan yang lain, yang kemudian dianggap dirinya. keterbelahan ini semakin parah ketika ia masuk dalam tatanan simbolik. manusia bukannya sama sekali tidak menyadari keterbelahan ini, justru sebaliknya, keterbelahan ini membuatnya merasa ada yang kurang. dalam dirinya ada yang "berlubang" dan "menganga"yang ingin ditutupnya.
fase perkembangan di atas untuk memahami logos sebagai bahasa. perhatikan bahwa manusia di satu sisi ia merupakan makhluk yang melepaskan diri dari ibu, sementara di sisi lain ia juga merindukan pulang pada ibu. proses melepas diri dari ibu ini bukan proses biasa, karena di satu sisi ia membutuhkan, namun ia harus lepas dari apa yang dibutuhkan itu agar bisa tetap hidup. ambiguitas ini yang oleh Julia Kristeva disebut "abjek". sejatinya ibu adalah yang mengantar anak untuk mengabjek dirinya, yaitu ketika ibu memoperkenalkan anak pada bahasa fase di fase cermin, bahasa yang imajiner simbolis atau dalam psikoanalisa disebut "bahasa ibu".
inilah pemahaman lebih dalam mengenai logos sebagai bahasa yang dipararelkan dengan Eros (cinta).
cinta kata Kristeva, adalah kombinasi sublimasi dan abject. ini adalah kombinasi antara identifikasi dgn sublimasi ideal serta keputusan untuk memisahkan diri dengan m/other, di sini yang meliputi juga abjeksi. cinta dengan demikian membutuhkan dua hal yaitu : self (diri) dan yang lain (other ). serta memampukan subjek untuk menyebrangi keterikatan antara "diri" dan keharusan menjadi "orang lain". cinta adalah sebuah sapaan terhadap yang lain. jiwa berkemungkinan mentransendesasi adanya yang imanen hanya dalam cinta. pada saat cinta mensublimasi dirinya pada cinta, ia menyatu sekaligus berjarak, menjadi subjek. kehidupan cinta adalah kehidupan sang jiwa yang mentransendensasi dalam cinta. cinta membutuhkan tiga terma : subjek, objek (riil atau imajinasi), dan liyan (mewacanakan suatu makna). cinta setelah memenuhi tiga terma itu, barulah bisa menjadi sesuatu yang terbicarakan. melalui bahasalah kita bisa mencintai satu sama lain. ini bukan dalam pemaknaan kita berbicara dalam bahasa ibu yang sama ketika kita mencintai satu sama lain. apa yang dimaksud di sini adalah "aku". melalui bahsa dan liyan juga melalui bahsa. dan relasi "aku" dengan liyan dikonstitusi hanya melalui bahasa. titik ini juga sebagai pengingat bahwa bahasa selalu heterogen, terbuat dari elemen-elemen simbolik dan semiotik.
cinta adalah hidup dari psyche. tanpa cinta yang disertakan dalam sebuah analisis psyche, kita hidup dalam kematian. pengetahuan dan upaya mengetahui ini adalah logos: yang didalamnya sekaligus terdapat bahasa dan cinta. mempelajari psyche dalam semangat logos adalah mempeljari sesuatu dalam tatanan bahsa yang disadari benar dilakukan dengan cinta. inilah sebuah filosofi penting yang hendaknya disadari oleh siapapun pembelajar psikologi yang masih memiliki keramahan terhadap kehidupan. filosofi inilah yang akan menghindarkan psikologi terjerumus dalam "pekerjaan tukang" yang berparadigma techne.
sumber: audivax.2010.filsafat psikologi.yogyakarta:pustaka book publisher.
Kamis, 26 April 2012
Di atas Galar
jika tak ada lagi kata, buat apa kau berucap lagi?
jangan memaksa bertahan di tengah hempasan ini.
kau tetap saja mencoba bertahan di tengah dinginnya malam.
menapaki beribu duri yang menusuk.
apa guna kata yang telah kau ucap?
semua berakhir tak ada guna.
datang hati kau lakukan itu.
bagai bak batu tak punya rasa.
flegma bersemayam dalam dirimu.
terlalu tajam, namun itulah nyatanya.
beri waktu,
biarkan dia duduk di atas galar.
agar kau tahu betapa lara ini bercerita.
kau keliru menepiskan hati,
hingga senyum itu kau tak sadari.
berlabuh di atas persemayaman hati yang tak ada guna,
bagai menanti datangnya hujan di tengah gurun.
inilah selembar kisah untuk hati yang telah kau titipkan.
bila ku mampu,
akan kujadikan kisah ini sebagai landskap agar terlihat indah.
agar tak ada lagi senyum pahit.
manyar saja masih berkicau, apalagi dengan dirimu yang hanya sebagai penepis hati.
Kepribadian dan Kesehatan Mental
Dalam mempelajari kesehatan mental tak
lepas dari pengetahuan kepribadian. Kepribadian alih bahasa dari personality,
berasal dari kata persona artinya
topeng atau kedok. Biasanya di pakai oleh pemain sandiwar, disesuaikan peran
yang dimainkan. Istilah personality sering disamakan dengan character atau watak maupun tipe. Allport berpendapat bahwa character
is personality evaluated and personality is character dev aluated. Ia menganggap watak dan kepribadian
adalah satu dan sama, tetapi dipandang dari segi yang berlainan. Bila akan
mengadakan penilaian dengan menggunakan norma, tepat dipakai istilah
kepribadian. Pengetahuan psikologi kepribadian terdiri atas beberapa teori dan diadakan penggolongan yang berdasarkan
atas berbagai hal. Dalam uraian ini hanya dilihat dari cara pendekatannya (approach). Cara pendekatannya yaitu pendekatan tipologi (typologycal
approach) dan (trait approach).
TEORI
HIPPOCRATES-GALENUS
berdasarkan pengaruh kosmologi, yang
menganggap alam bersama isinya tersusun dari empat unsur, yaitu: tanah bersifat
kering, dara besifat dingin, api bersifat panas. manusia sebagai bagian
makrokosmos atau sebagai salah satu mikroskosmos juga mempunyai empat cairan
besifat isinya.
1.
sifat kering terdapat pada chole/empedu kuning
2.
sifat basah terdapat pada melanchole/empedu
hitam
3.
sifat dingin terdapat pada phlegma/lendir
4.
sifat panas terdapat pada sanguis/darah
dominasi cairan di dalam tubuh menunjukkan
sifat kejiwaan yang khas disebut tempramen. tipe-tipe manusia menurut HIPPOCRATES
dan GALENUS sebagai berikut:
Cairan
tubuh yang dominan
|
Prinsip
|
Tipe
|
Sifat
khas
|
Chole (empedu kuning)
|
Tegangan
|
Choleris
|
Besar semangat/ hidup, keras, mudah
marah, daya juang besar optimis.
|
Melanchole (empedu hitam)
|
Penegaran
|
Melancholis
|
Mudah kecewa, suka merenung, daya juang
kecil, pesimistis.
|
Phlegma
|
Plastisitas
|
Phlegmatis
|
Tenang/kalem, tak mudah dipengaruhi,
setia, lamban.
|
Sanguis
|
Ekspansifitas
|
Sanguinis
|
Ramah, mudah ganti haluan.
|
B. Teori Heymans
Teori heymans berdasarkan atas tempramen,
dengan data empirik menemukan dasar klasifikasi dengan tiga macam kualitas
kejiwaan: emosionalitas, proses pengiring, dan aktivitas. Setiap orang punya
kualitas dalam taraf tertentu.
1. Emosionalitas
Maksudnya
mudah atau tidak, perasaan orang terpengaruh kesan-kesan. Tiap-tiap orang
mempunyai kecakapan untuk meghayati suatuperasaan karenapengaruh suatu kesan,
namun masing-masing mempunyai tingkat yang berbeda. Menurut dikotominasi
terdiri dari:
a. Golongan emosional, mereka yang emosionalitasnya tinggi (+)
mempunyai sifat-sifat impulsif, mudah marah, suka tertawa, perhatiannya tidak
mendalam, tidak tenggang rasa,tidak praktis, dalam berpendapat tetap, ingin
berkuasa, dapat dipercaya dalam soal keuangan.
b. Golongan tidak emosional, emosionalitasnya
tumpul atau rendah (-). Sifat-sifatnya antara lain : berhati dingin, hati-hati
dalam menentukan pendapat, bertenggang rasa, praktis, jujur dalam batas-batas
hukum, dapat menahan nafsu birahi, member kebebasan orang lain.
2. Proses pengiring
Yang
dimaksud, banyak atau sedikit pengaruh kesan-kesan pada kesadaran setelah kesan
itu tidak berada lagi dalam kesadaran. Proses pengiring ini berbeda
tingkatannya pada masing-masing golongan, menurut dikotomisasinya sebagai
berikut:
a. Golongan proses pengiring kuat (+), yang
berfungsi sekunder. Sifat-sifat antara lain: tenang, tidak mudah putus asa,
suka menolong, bijaksana, ingatannya baik, berfikir bebas, teliti, konsekuen,
dalam politik moderat atau konservatif.
b. Golongan proses pengiring lemah (-), yang
berfungsi primer. Mempunyai sifat-sifat di antaranya: tidak tenang, mudah putus
asa, ingatan kurang baik, boros, tidak teliti, tidak konsekuen, dalam politik
radikal, egoistis.
3. Aktivitas
Maksudnya adalah banyak sedikitnya individu itu
menyatakan diri, menjelma perasaan dan pikiran dalam tindakan yang spontan.
Dikotomisasinya yaitu:
a.
Golongan
aktif, yaitu: karena adanya suatu alsan yang lemah,/kecil individu telah
berbuat sesuatu (+).sifat-sifatnya antara lain: senang sibuk, bergerak,
periang, mudah mengerti, praktis, kuat menentang pengahalang, pandangan luas,
loba, lekas damai setelah bertengkar, tenggang rasa.
b.
Golongan
tidak aktif, termasuk mereka , meskipun belum ada alasan kuat belum mau
bertindak (-). Sifat-sifatnya antara lain: lekas mengalah, mudah putus asa,
memandang berat segala persoalan, perhatian, tak medalam, tidak praktis, nafsu
birahi, sering menggelora, boros, segan membuka hati.
Dengan melihat gambaran tersebut,
tampak adanya delapan tipe yang ditandai
oleh sifat-sifatnya yang aktif dan yang negative. Tipe itu adalah:
1.
Orang
hebat ditandai : + + +
2.
Sentimental
ditandai : + + -
3.
Choleris
ditandai : + - +
4.
Nerveus
ditandai : + - -
5.
Phlegmatis
ditandai : - + -
6.
Aphatis
ditandai : - + -
7.
Sanguinis
ditandai : -
- +
8.
Amorph
ditandai : - - -
Dengan mengetahui tipe tersirat
sifat-sifat yang dimiliki, maka dapat ditentukan langkah-langkah untuk menjaga
keseimbangan mereka.
C. TEORI SIGMUND FREUD
Kesadaran itu hanya sebagian kecil dari kehidupan
psikis.
Kepribadian
menurut feud
Menurut pendapatnya struktur kepribadian terdiri atas
beberapa aspek yaitu:
·
Das Es atau the
id, merupakan aspek biologis
·
Das ich atau
the ego, sebagai aspek psikologis
·
Das uber atau
super ego, sebagai aspek sosiologis
Ketiganya mempunyai sifat,
fungsi, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namujn tiga hal
mempunyai hubungan yang erat. Ketiganya tak mungkin dipisahkan pengaruhnya
terhadap tingkah laku manusia.
1. Das
Es/ the Id
Merupakan aspek
biologis sebagai intim original dalam kepribadian. Merupakan dunia batin atau
subjektif manusia, tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif.
Sebagai reservoir energy psikis yang
menggerakkan das ich dan uber ich. Energy psikis dalam das es dapat meningkat karena rangsangan
dari dalam dan dari luar.
2. Das
Ich/the Ego
Merupakan aspek psikologis
dan kepribadian. Aspek ini timbul karena adanya kebutuhan organism untuk
berhubungan dengan realita/dunia nyata.
3. das uber ich/the super ego
merupakan aspeksosiologis
pada kepribadian, sebagai wakil nilai-nilai tradisional serta cita-cita
masyarakat yang diajarkan pada generasi berupa larangan dan perintah. Sebagai
aspek kesempurnaan atau moral dlam kepribadian. Berfungsi menentukan
benar-salah, susila- tidak susila, pantas-tidak pantas. Fungsi utama das uber ich dengan mengetahui hubungan ketiga aspek kepribadian,
yaitu:
a.
merintangi impuls-impuls das es,seksual dan agresif yang ditentang masyarakat.
b.
Mendorong das
ich mengejar hal-hal yang moralitas daripada yang realistis
c.
Mengejar kesempurnaan.
Jadi, ada kecenderungan
bertentangan dengan das es dan das ich. Dalam kenyataan tugas aspek ini
bekerjasama diatur oleh das ich,
karena kepribadian merupakan kesatuan. Aspek-aspek tersebut sebenarnya hanya
nama untuk berbagai proses psikologis yang berlangsung dengan prinsip-prinsip
berbeda.
Sumber: Sundari HS, Sitti. 2005.
Kesehatan mental dalam lingkungan. Jakarta:
PT Rinneka Cipta.
Langganan:
Postingan (Atom)