Senin, 23 April 2012

Catatan yang terlewatkan di akhir Desember


sekarang, kepada siapa kuharus bercerita?
sepi telah menjadi penghias dalam hidup.
angin cuma mampu berhembus perlahan. 

bulan?
tak ada bulan!

bintang?!hanya mampu menatapku dari atas sana,!

langit?!
hanya mampu menyaksikan dari setia sudut kisah!

bumi,!
hanya mampu merasakan getaran hati dalam sepi menanti dirinya!

bukan maksud membuat goresan tajam,
tapi kuhanya ingin menyandarkan rasa ini kepadamu.

agar kau tahu,

di setiap malam, bumi hanya mampu merasakan getiran hati.
luapan terhempas lewat mata dan menagis.
semuanya lewat begitu saja,
tak juga ada yang merasakan.
tak ada!

Lanjut kisah


maaf,
bila di malam indah ini kuhanya menjadi perenung dalam diri.
namun,
melukiskan keindahan itu adalah hal yang terindah.
meski kau tak di sini,
rasa itu masih tetap bertahan.
mungkin kau tak di sini,
akupun tak ada di sana.
namun,
hanya kau yang aku mau,begitu katanya.

tak terkira,
segalanya begitu menyentuh setiap replika kehidupan yang ada,
dari setiap perspektif hal itu telah ada.
begitu indah,
hingga dingin yang telah menusuk tulang tak terasa,
hujan pun turut menemani dengan suara percikannya,
menemani malam yang gelap dan sunyi ini,
lalu kau titipkan nada indah lewat semilir angin malam yang begitu menusuk,
seakan menemani di malam yang sunyi ini.

titik ( . )


saya belum menemukan titik yang sebenarnya,
titik yang tak jua kutemukan
entah dimana kau meletakkannya,
kau tau dimana?
diri ini masih bertanya-tanya penuh tanya.
kemarin hingga hari ini kumasih terus mencari,
setiap helai lembaran itu tak satupun ku palingkan dari pandangan ini,
namun tak ada.
sulit, yah seperti itu kiranya.
kau tau rasanya apa?
diri ini berkecamuk dan menuntut atas keegoisan yang ada
tak tau kuharus mencari kemana agar titik itu kutemukan
seribu cara tak juga ada yang mampu,
berlebihan kiranya, namun apalah tujuan tak jua ditemukan.

"pencarian pemikiran hasil" = "ambigu"

Tiga Replika

Episode I

 saat pagi menjelang kau masih saja tertidur pulas.
hingga kicauan burung pun tak mampu membangunkan.
lalu kubuka tirai jendela kamar,
agar kau mampu merasakan betapa teriknya di luar sana.
agar kau juga mampu merasakan betapa besar kekuatan semangat kehidupan di luar sana,
kau harus rasakan itu,!
tak peduli bintang di matamu masih menghiasi.
tak peduli kau masih bergelut dalam hangatnya selimut malam yang kau kenakan...
......

Episode II 
.....
beribu kisah telah  terangkai lewat pena ini.
kuhanya melihat setitik dari beribu jeritan yang berharap pasti,
tak juga ada yang memberi untuk melihat sekilas kesempurnaan itu untuk mereka.
pernah ku mencoba dan mencari seorang homonidipus yang sanggup menemani dalam beribu kisah mereka,
dan sehari menjadi bagian dari mereka,
namun kepastian yang membuatku terhenti.
terhenti untuk mencari jalan lain,.
tak henti pandanganku menembus kaca yang hanya bisa memandang ketidakadilan yang mencekam,..


Episode III (Terakhir)
.....
malam tak pernah meninggalkan kisah yang tak bermakna,
seperti indahnya sang bulan menatap tajam dari atas sana.
atas keindahan itu sang bumi teraba oleh keindahanmu.
hingga segala kelemahan telah tertuju pada sebuah kebenaran.
yang memberikan pengakuan yang begitu pahit.
hadir dalam bayangan yang tak pernah menunjukkan wujud sebenarnya.
tak pernah kau berada dalam kenyataan yang meringis ini
kau hanya mampu berada pada bayangan semu itu.
sebuah kisah telah tertulis.
seseorang tak mampu meraba atas perasaan ini,
namun pahit bila hanya mampu menahan.
hingga seluruh hidup hanya mampu kutorehkan  dalam kehidupan liar negeri ini.
tak mampu menjejakkan kaki di bangku itu,
tak mampu pula memberikan perubahan.
melihat mereka berlihai gemulai di atas karpet merah,yang seharusnya
kau jadikan  alas.

tak berdosa namun  berdosa karenamu.

itu salah satu ungkapan untukmu.
para diktator negeri,!
menampung harta bumi dan negeri tak ada guna,
kau dan mereka tercipta sama.
dan akan kembali ke alam yang sama.
pahit rasanya bila melihat nyata  hidup ini.
 merilis album pahit  pada memori mereka,
setiap  nafas mereka mengeluarkan begtiu banyak rautan,
hingga mengisahkan kehidupan yang tajam.


selesai,... :)



Minggu, 22 April 2012

mengerti tidak lagi


beranjak dari  awan tebal yang yang menghias
ku melihat sebuah peraduan yang begitu nyata namun masih terlihat kelam,
ku tak tahu artinya apa,
sebuah bait kisah menusuk dalam tanpa ada angin yang membawa.
beribu makna pasif kau lontarkan,
tak memikirkan ocehan pipit yang bersanggar,
tak lagi kau jabarkan kisah yang ada,
tak ingin lagi kau mencari potongan kisah yang telah kau buat namun tak sempurna,
inginku!!!
beranjak dari tidur,
cukup menyadarkanmu 
tak peduli kau berkata apa,
cukup angin yang membawa pergi,
pipit saja  meninggalkan jejak pada dahan,
tapi kau masih tetap saja meninggalkan jejak yang tak jelas,
kau hanya mampu berkata ,namun tak memberi sebuah kata bermakna,
ambigu!!
itu kataku.

Menulis, mengapa harus ragu???...

setiap individu lahir ke bumi dibekali dengan kemampuan menulis, a gifted writer. setiap orang sejatinya adalah penulis.
sosok yang menulis apapun itu. pada prinsipnya, menulis tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi juga wkspresi diri dalam kendali otak dan otak yang menuntut latihan berkesinambungan dan terpola secara sistematis. tuntutan ini berlaku tidak hanya untuk individu yang diberkahi Tuhan dengan anggota tubuh tidak kurang apapun, tetapi mereka juga dihadapkan berbagai macam keterbatasan sejak lahir atau akibat kemalangan.
seseorang menulis pasti memiliki tujuan. corat-coret sekenanya juga menulis. karena kegiatan itu mengekspresikan rasa maupun gejolak dalam diri seseorang meskipun tanpa makna. dengan demikian , dari sudut pandang kegiatan fisik dan ekspresi, seseorang yang buta aksara (illiterate) sebenarnya masih juga bisa menulis.
namun, agar tulisan bermakna seseorang membutuhkan latihan continue dan terpola secara sistematis untuk mengasah ketajaman rasa. apalagi jika menginginkan tulisan mampu berfungsi komunikatif, dan interaktif, bahkan artistik.
semuanya merupakan proses yang menuntut "pengorbanan" waktu dan tenaga. tidak langsung jadi.
peristiwa maupun kejadian sehari-hari serta gejala di lingkungan sekitar merupakan perangsang sekaligus pemberi bahan jitu untuk ditulis. apapun yang dirasakan dan dipikirkan seseorang dari kejadian sehari-hari bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.
jika merasa tulisan tersebut hanya untuk 'konsumsi pribadi' atau belum cukup percaya diri untuk dinikmati orang lain, anda bisa mulai menulis misalnya di buku harian (diary), menulis apapun sesuai suasana hati (mood) dalam bentuk yang disukainya. catatan harian, silahkan. bagai puisi atau cerita pendek itu tidak jadi masalah. semau gue-lah. bebas lepaskan apapun yang dipikirkan dan dirasakan.

sebagai wahana berlatih, seseorang bisa menerbitkannya sendiri. misalnya, orang lain bisa membaca tulisan ini di laman (page), situs pribadi (personal website), juga lewat blog yang dibuat di multply, blogspot, wordpress, dan lainnya yang menyediakan gratis. ^_^
bahkan ia bisa menerbitkan melalui catatan (note) di situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter.

pertama, seseorang harus meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menulis. jangan pernah beranggapan bahwa keterampilan menulis itu merupakan bakat alami seseorang. bakat tidak pernah membuahkan hasil yang dikehendaki jika tidak diasah dengan latihan dan sentuhan lingkungan.

berikutnya, tulis apa saja yang dinilai menarik. jangan malu dan cepat berpuas diri atas hasil tulisan serta apa pun komentar rang lain atas tulisan tersebut. ibarat orang belajar naik sepeda, jangan gampang bosan dan menyerah saat jatuh karena menulis merupakan proses beresiko (risk taking process).
berlatih, berlatih, dan terus berlatih hingga mahir.

selain ketekunan, sebagai proses, menulis juga membutuhkan waktu. jadi bersabarlah. asal terus berlatih, seiring bergulirnya waktu tulisan seseorang akan baik dan semakin baik. bahkan proses menuju perbaikan itu kerap tidak disadari seturut bertambahnya wawasan. mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan mendatang anda akan malu melihat tulisan yang dihasilkan saat ini. ^_*

ibarat pepatah, "Roma dibangun tidak hanya semalam". semua menuntut perjuangan. para pengarang brilian, penulis hebat tidak secara tiba-tiba mendapatkan kesuksesan seperti yang dinikmati sekarang. semua melalui proses perjuangan beraneka corak dan ragam.
oleh karena itu, tempatkanlah menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. jadi mulailah menulis. ^_^

pagi (hening)

pagi menjelang siang yang begitu menusuk,
sembari menyapa hari yang begitu hening.
dikala siang menjemput,
tak menampakkan kedatangannya.
namun sejalan dengan apa yang ada,
sembari bergelut pada dunia fatamorgana.
tak menampakkan keinginannya,
namun sejalan dengan alur hidupnya.

pagi menjelang siang yang begitu hangat.

begitu kata pagi menyapaku.
mengawali hari dengan rintikan,
sembari berganti dengan indahnya hari.
waktu berjalan,
tak lagi ada secercah cahaya menembus celah ruang,
dan hujanpun turun,
suasana menjadi kelabu