sepertinya pagi masih menyapa dengan senyum,
namun entah apa yang membuat keadaan terlihat mencekam?
aku tak mengerti,
benar-benar tak mengerti.
aku bertanya pada waktu namun berlalu begitu saja.
biarkan.
aku takkan membiarkannya lepas,
namun bila kau tak memainkan keegoisanmu pada keadaan mungkin takkan seperti ini.
apalah arti dari sikap abstrak yang dibawa pengaruh egomu?
hanya kamu, keadaan, waktu, dan Tuhan yang tahu.
sabar tak punya batas,
namun manusialah yang memberikan sekat.
bila sabar hilang, bila logika tak jalan lagi, bila ego sudah mengambil alih, untuk menghantam samudera pun aku mampu.
aku!
aku yang kehilangan kesabaran.
tak memikirkan kamu siapa dan darimana!
dimana martabat dan harga diri yang kau junjung tinggi jatuh begitu saja hanya dengan satu dua ucapan yang diluar kendali?
memalukan!
jangan sebut aku sebagai aku bila tak pernah mengalami itu!
aku dalam kenestapaan amarah yang tak terkendali,
Rabu, 05 Maret 2014
Jumat, 28 Februari 2014
bukan (hati) itu
ketika fajar menyambut dengan indahnya,
kumelihat jalan yang sunyi masih menghiasi mata.
terlihat kosong dan hanya ada daun yang beterbangan.
seiring dengan itu aku menikmati setiap sentuhan angin yang berhembus dengan perlahan dan menyejukkan. memberikan tamparan yang begitu lembut.
~
berjalan dan menutup mata hanya untuk mendengarkan bisikan angin yang kadang malu untuk berucap.
kabut-kabut masih terlihat jelas menutupi gunung yang menjulang tinggi.
kadang membentuk cincin, dan terlihat indah.
seolah membentuk jari manis yang terhias oleh cincin.
aku mengenakan itu pada hidup sang putri dalam cerita dongeng yang berakhir indah dengan pangeran.
mungkin?
mungkin saja, namun mustahil.
mendengar itu, orang-orang akan tergelitik.
ketika semakin jauh melangkah melewati setiap bait cerita ini, udara semakin dingin merasuk menusuk tulang.
tetap saja aku masih menikmati itu.
walau membuat jari-jari ini sulit untuk bergerak.
~
lalu apa lagi?
pikiran ini semakin mengacu adrenaline untuk terus berjalan.
entah apa yang diharapkan, namun ada saja alasannya.
aku tak tau, jiwa pun demikian.
hanya hati yang mengetahui itu.
Ah!
ini masalah hati.
aku salah kaprah.
aku berbalik, dan pergi.
hatiku tak demikian.
jalan benar hati tak tertuju,
sebut saja (kau)
selamat malam untuk kamu yang menanti hati
selamat malam untuk kamu para pengagum
dan selamat malam untuk malam yang indah ini.
kumenyambangi malam ketika senja telah berlalu
berjalan dan menikmati setiap hempasan angin
kau tersenyum seolah melihat sesuatu yang kamu rindukan.
kau memalingkan pandangan seolah kau menyembunyikan kata rindumu
kau terdiam seolah kau tak tau apa-apa
namun kau?
~kau pergi.
selamat malam untuk kamu para pengagum
dan selamat malam untuk malam yang indah ini.
kumenyambangi malam ketika senja telah berlalu
berjalan dan menikmati setiap hempasan angin
kau tersenyum seolah melihat sesuatu yang kamu rindukan.
kau memalingkan pandangan seolah kau menyembunyikan kata rindumu
kau terdiam seolah kau tak tau apa-apa
namun kau?
~kau pergi.
Rabu, 26 Februari 2014
pagi tak buta
aku di sini masih menanti sang fajar,
dengar bisikan yang begitu mengharukan hingga tak satupun kata-kata yang mampu terucap.
kau adalah...
kau tegar,
kau yang selalu tersenyum walau perih telah menghujammu.
ini akan menjadi catatan khusus untukmu, kawan.
hidupmu keras tapi tak sekeras hatimu.
diam, membisu, hingga tak ada satupun yang terdengar.
kesunyian, kebimbangan, hanya itu yang merasuk.
lalu?
kualihan pandanganku dan aku tak mampu untuk mengutuk keadaan.
keadaan ini.
lantas apa yang ada?
hanya waktu yang terasa terbatas untuk mengungkap caci maki dari setiap keinginan hati yang tak terjamah.
~
pagi telah menyambangiku lebih cepat dari perkiraan,
hingga aku sadar tak selalu waktu akan memberi kesempatan unuk membawamu bersamaku, dan menciptakan rasa sesal jadi ssebuah senyuman darimu dan dirinya yang dipisahkan.
takkan kubiarkan bait terakhirku mengukir rasa sesal,
walau hanya cerita yang tak seindah dongeng.
biarkan kisah itu mengalir dengan waktu hingga diujung jalan kau akan berbalik dan tersenyum padaku :)
sekian.
dengar bisikan yang begitu mengharukan hingga tak satupun kata-kata yang mampu terucap.
kau adalah...
kau tegar,
kau yang selalu tersenyum walau perih telah menghujammu.
ini akan menjadi catatan khusus untukmu, kawan.
hidupmu keras tapi tak sekeras hatimu.
diam, membisu, hingga tak ada satupun yang terdengar.
kesunyian, kebimbangan, hanya itu yang merasuk.
lalu?
kualihan pandanganku dan aku tak mampu untuk mengutuk keadaan.
keadaan ini.
lantas apa yang ada?
hanya waktu yang terasa terbatas untuk mengungkap caci maki dari setiap keinginan hati yang tak terjamah.
~
pagi telah menyambangiku lebih cepat dari perkiraan,
hingga aku sadar tak selalu waktu akan memberi kesempatan unuk membawamu bersamaku, dan menciptakan rasa sesal jadi ssebuah senyuman darimu dan dirinya yang dipisahkan.
takkan kubiarkan bait terakhirku mengukir rasa sesal,
walau hanya cerita yang tak seindah dongeng.
biarkan kisah itu mengalir dengan waktu hingga diujung jalan kau akan berbalik dan tersenyum padaku :)
sekian.
Selasa, 25 Februari 2014
...
terlalu lama rasanya bila harus menunggu ucap darimu.
terlalu naif bila harus menunggumu lagi.
terlalu lama bila harus mengharapkanmu.
bila kau ingin, hanya sekedar memahami.
terlalu naif bila harus menunggumu lagi.
terlalu lama bila harus mengharapkanmu.
bila kau ingin, hanya sekedar memahami.
(?)
percayakah dirimu akan keindahan ini?
yang kadang membuat hatimu merona jingga?
percayakah dirimu akan kekuatan cinta yang menyimpan sejuta rahasia dibalik waktu.
menuju langit hingga diujung langit, meneriakkan kata cinta?
yang kadang membuat hatimu merona jingga?
percayakah dirimu akan kekuatan cinta yang menyimpan sejuta rahasia dibalik waktu.
menuju langit hingga diujung langit, meneriakkan kata cinta?
Senin, 24 Februari 2014
satu dari seribu kisah tentang ini,
hujan
aku tak pernah menyalahkanmu
aku tak pernah.
sekalipun tak pernah.
namun,
hujan,
apa yang kamu inginkan?
tak inginkah kau beristirahat sejenak?
hujan,
ketenangan, masa lalu, dan kesedihan.
kau seolah membawa itu kembali.
hujan,
elok rupa dari rintikan yang jatuh perlahan~perlahan~perlahan dan akhirnya deras hingga sekujur tubuh ikut basah dan menikmati rintikanmu. bahkan ikut "menabur" lewat tetesan hujan yang menyerap lewat kain tipis yang ia kenakan.
dari sekian banyak,
aku tak pernah menyalahkanmu
aku tak pernah.
sekalipun tak pernah.
namun,
hujan,
apa yang kamu inginkan?
tak inginkah kau beristirahat sejenak?
hujan,
ketenangan, masa lalu, dan kesedihan.
kau seolah membawa itu kembali.
hujan,
elok rupa dari rintikan yang jatuh perlahan~perlahan~perlahan dan akhirnya deras hingga sekujur tubuh ikut basah dan menikmati rintikanmu. bahkan ikut "menabur" lewat tetesan hujan yang menyerap lewat kain tipis yang ia kenakan.
dari sekian banyak,
Langganan:
Postingan (Atom)
