Rabu, 14 November 2012

kacau!

menatap ringan setiap titik rintik hujan yang semakin lama semakin deras.
perlahan, hujan menghampiri di tengah november ini.
angin tersibak memberi ayunan pada setiap helai  daun yang melekat pada tangkai kehidupan.
seolah tak memberi ruang untuk bernafas,
mendesak keinginan yang tak juga menampakkan rohnya.
memberikan jalan kepada para babu buta yang seharusnya menjadi tuntutan.
raga ini terdiam, jiwa ini melayang.
sapa yang peduli?
tidak ada!
seorang pun tak ada yang merasakan hal itu!
hilang beribu jiwa tenggelam dalam kenestapaan yang hanya berjalan dalam mimpi.
tak menatap pada kehidupan nyatanya.




Selasa, 16 Oktober 2012

berjalan menyusuri malam, hingga lampu jalan kota menemani..
masih merasakan tamparan polusi.
walau sebenarnya bulan telah menampakkan dirinya.
melaju tak begitu kencang, melihat suasana bahu jalan yang semakin terlihat ramai oleh parah kaumNya.



Rabu, 03 Oktober 2012

pengejaran harapan

dalam jiwa yang memberikan ketenangan,
terima kasih telah membuat hati ini damai.
damai dalam kelamnya pemikiran yang entah itu disebut apa.
tenggelam dalam lautan kehidupan yang kadang tak nyata.
diri ini,
berdiri di sini.
dan mengatakan , jangan berikan kesempatan kepada kegembiraan dan ratapan. 
memberikan klimaks yang begitu dalam.
antusias kehidupan dalam menyambut bayangan masa depan itu lebih bijaksana.
seorang pelukis memberikan warna pada kanvasnya agar terlihat indah.
menghasilkan sebuah nilai yang begitu tinggi.
tak terlihat dari apa, namun itu adalah seni.
karena warna dapat menyembuhkan,
karena warna dapat memberikan semangat.
lalu, mengapa tak menghubungkan itu?
kacau!
bagaimana dengan masalah hati?
mempunyai kemantapan hati tujuan jangka panjang harus dimiliki.
agar tak tergoyah dengan kegagalan jangka pendek.
diri ini takkan membiarkan ketakutan menyelimuti, karena akan membuat mundur dari pengejaran harapan.
seharusnya diri ini tahu, dari semua pembohong di dunia ini hal yang paling buruk adalah rasa takut itu sendiri.

lebih baik berani menghadapi hal-hal besar demi kemuliaan kendati banyak bayangan tentang kegagalan ketimbang bersekutu dengan orang-orang yang berjiwa malangdan takut terhadap penderitaan. sebab mereka hidup dalam "senja abu-abu" yang tidak mengetahui arti kemenangan atau kegagalan. (Theodore D. Roosevalt)





Selasa, 02 Oktober 2012

telah lalu

jarum jam menunjukkan tepat pukul 8.00 wita.
waktu dimana tempat peraduan ini berada.
tak lagi mengambil langkah pelan, berlari lalu menancapkan semangat di atas tanah kehidupan.
percaya pada keinginan yang akan  tercapai.
jangan memulai harapan tanpa keyakinan.
terdengar suara samar,
itu adalah beo dari tetangga sebelah yang meratapi nasib!
kasihan!
bukan maksud untuk mengejek,
lalu apa?
hanya memberi pertanda sikap pada waktu yang telah lalu.
tak mesti jadi santapan wajib di hadapan cermin yang menjadi saksi air mata mengalir dari pipinya.
memberikan suapan yang mungkin sedikit atau lebih menyakitkan dari apa yang saya lihat.
memang nyatanya tak mengerti tapi masih bisa merasakan pandangan kosongnya.
memberikan pertanda terikat pada keinginan yang tak semestinya dia terima.
memandangi dari balik jendela, melihat dia ke penghujung jalan.
harapan untuk lanjut mestinya telah ada sejak kepergian pasangannya.
namun dia tetap saja meratapi.
penuaan yang terjadi tak menyadarkan dirinya.
berbicara tapi tak mempunyai makna.
itulah dirinya yang hidup dalam keinginan masa lalu.


............
03 oktober 2012. 09:10 wita.

label pagi

sepertinya pagi telah menyapa,
terlihat begitu cerah dan membuat hari ini terasa lebih dari sebelumnya.
pandangi sang mentari yang elok d ufuk sana,
mengingatkan pada suasana dua dekade yang telah lalu.
tersipu malu ketika memori klasik itu terbesik.
memandangi langit yang begitu cerah,
dan orang-orang memulai aktivitasnya.
namun disini kumasih tetap saja belum beranjak.
tak begitu indah namun itulah kenangan.
kenangan yang telah terlewatkan oleh waktu.
dan hanya bisa melihatnya dalam memori klasik.
entah sampai kapan akan tersimpan,
atau hanya untuk sementara?
sebuah keinginan yang tak mungkin terulang.
perbait kata-kata ini terus mengalir.
seolah menyuplai tenaga untuk terus memainkan kunci kata.
tak berhenti sampai disini, semua mengalir begitu saja.
menumbuhkan keinginan untuk memainkan pena.
ah! bukan!
ini bukan pena, ini hanya sebuah tombol.
itu maksudnya, tapi entah namanya apa.
memberikan ejekan !
hanya bisa tertawa lepas melihat itu.
tapi lupakan sepenggal kalimat tadi,
beralih pada sebuah retorika, atau janganlah sebut seperti itu!
terlalu tinggi untuk memajangnya pada tulisan sederhana ini.
lalu apa?
cukuplah sampai pada ujung kalimat ini.

menyebut apa
03 oktober 2012. 06:52 wita


inilah tanganku, genggamlah dengan keindahan tanganmu.

beranjak dari peraduan nasib.
tak tau menentukan arah kemana.
melihat segelintir kenestapaan yang tak juga meredam.
melihat peraduan yang berharap netralitas.
aku berpikir dengan jujur bahwa lebih baik gagal pada sesuatu yang kamu cintai daripada berhasil pada sesuatu yang kamu benci. ( george F. burns)
tak berharap keinginan ini hadir dalam keadaan yang tak semestinya.
membuat satu atau dua kening mengerut dalam pemahaman yang ambigu ini, menurutnya.
tapi tetap saja bergelut pada retorika yang tak punya tanggungjawab, menurutku.
meredup keinginan untuk menapaki, namun gejolak ini tetap saja ingin merenggut.

kembali kuberadu pada kenestapaan.
terlalu hina dengan kata itu!
seolah tak punya keinginan untuk melawan arus.
layang-layang saja dapat terbang karena menentang angin, bukan untuk mengikuti angin.
tak berpikir sampai serumit ini, tapi mencoba untuk berbuat.
mencoba melihat peradaban kehidupan yang ada dihadapanku.
pohon yang memiliki lingkaran sebesar pelukan orang dewasa berasal dan tumbuh dari benih yang kecil.
bangunan setinggi sepuluh tingkat pun dibangun dari dasar tanah. dan perjalanan seribu kilo meter selalu dimulai dari satu langkah. (laozi)
lalu, masih adakah terbesik untuk tak melanjutkan jalanmu?
berhentilah memberikan tatapan kosong pada jalan itu.
tak peduli apapun yang menerpa.
genggam tanganku, jangan biarkan diri ini terjerat dalam pemikiran yang bertopan.

resiko dan keyakinan itu seharusnya telah tertanam.
tidak ada pertumbuhan inspirasi jika hanya tinggal di dalam suatu tempat yang aman dan nyaman.


tercipta dari kesalahan yang mencoba ingin berhenti untuk melangkah. namun TIDAK!
02 oktober 2012. 20:07 wita.

Selasa, 28 Agustus 2012

ada apa dengan sekolah-sekolah di ASIA ?


Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan kepribadian tidak hanya berasal dari lingkungan budaya pada umumnya, melainkan dapat juga datang dari lingkungan sekolah.
majalah TIME, 15 april 2002, misalnya melaporkan kasus berikut (yang kemudian dikenal dengan kasus KOBE):

Kobe adalah sebuah kota di jepang yang tenang dan tradisional. setiap pagi dan petang karyawan dan karyawati serta pelajar-pelajar sekolah pergi dan pulang ke kantor dan sekolah masing-masing, di lampu lalu lintas pengemudi mengurangi kecepatannya ketika lampu kuning menyala (bukan justru mempercepatnya), dan seterusnya. pokoknya tidak ada yang menyangka bahwa di tengah masyarakat yang tradisional dan disiplin itu, terpendam masalah yang besar.

tetapi pada suatu hari, di tahun 1997, ketenangan itu terusik. seorang anak laki-laki berusia 14 tahun diskors dari sekolah karena berkelahi. Untuk mengisi waktunya selama tidak ke sekolah ia menyiksa kucing-kucing dan mengumpulkan berbagai pisau. pada suatu hari, ia mengajak kawan sekolahnya yang berusia 11 tahun untuk bermain ke hutan yang sepi. di situ kawan itu dibunuh dan setelah dipotong kepalanya diletakkan di depan gerbang sekolah, dan dimulut kepala tanpa badan itu diselipkan secarik kertas bertuliskan: "INI ADALAH BALAS DENDAM PADA SISITEM SEKOLAH YANG KELEWAT MEMAKSA DAN MASYARAKAT YANG MENCIPTAKANNYA".

dua tahun setelah itu kasus kobe itu, seorang remaja membunuh seorang anak berusia 7 tahun di halaman sekolahnya, setahun kemudian seorang remaja berusia 17 tahun memukuli setiap orang yang lewat dengan pemukul baseball di sebuah pusat keramaian di tokyo.kasusu-kasus serupa juga terjadi di korea selatan dan hongkong.

di Indonesia sendiri , salah satu kasus terkenal adalah seorang pelajar SMU di Medan bernama rizal yang membunuh ayah,ibu dan tiga saudara kandungnya, setelah ia dimarahi oleh ayahnya (seorang saudara lainnya selamat, karena sedang diluar kota). selain itu, diduga ada pengaruh penyalahgunaan obat, ternyata rizal adalah anak bungsu dari keluarga yang semuanya sarjana (ayahnya dokter, kakak-kakaknya dokter dan sarjana lain), dan rizal juga diharapkan untuk menjadi sarjana sehingga diduga bahwa rizal menjadi tertekan karenanya.

stres mental seperti itu, menurut laporan majalh TIME tersebut disebabkan karena sistem pendidikan di Asia sangat mengutamakan prestasi sekolah, khususnya dalam bidang matematika dan ilmu pasti (IPA) sebagai satu-satunya tolak ukur prestasi seseorang (sejak TK sampai UNIVERSITAS).

tidak mengherankan bahwa setiap orangtua berusaha memacu anaknya untuk menjadi juara kelas dan setiap anak yang tidak sukses dalam pelajaran matematika dan IPA dianggap sebagai pecundang. dampaknya adalah bahwa banyak anak (khususnya remaja) yang putus asa, karena tidak pernah diperhitungkan prestasinya.(walaupun mungkin ia olahragawan atau seniman yang baik) sehingga bisa menimbulkan sikap acuh tak acuh atau bahkan agresif kepada orang lain (seperti contoh-contohdi atas) atau kepada diri sendiri (angka bunuh diri pun relatif tinggi di negara-negara Asia).

sarwono, W sarlito.(2012). psikologi remaja. jakarta: PT. raja grafindo persada.